Sunday, December 25, 2016
Tuesday, August 16, 2016
Sejarah Sepeda (Bagian 1)
Dari Ensiklopedia
Columbia (wikipedia), nenek moyang sepeda diperkirakan berasal dari Perancis. Menurut kabar sejarah, negeri itu sudah sejak awal
abad ke-18 mengenal alat transportasi roda dua yang dinamai velocipede. Bertahun-tahun, velocipede menjadi satu-satunya istilah yang merujuk
hasil rancang bangun kendaraan dua roda.
Yang pasti,
konstruksinya belum mengenal besi. Modelnya pun masih sangat
"primitif". Ada yang bilang tanpa pedal tongkat itu (tatocipede) bisa
bergerak tapi bagaimana? Rick Boneshaker akan menjawabnya. Katanya "Oh,ini
jawabannya. Dua orang harus memutar engkol di sisi kanan dan kiri sepeda
"primitif" tersebut dengan pedoman kecepatan mendekati
109 km/jam. Setelah itu, tatocipede akan bergerak sesuai kecepatan engkol
berputar dengan urutan sebagai berikut: kiri, kanan, berputar, atas, depan, bawah,
belakang, barat laut. Tidak sulit kan?"
Adalah seorang Jerman
bernama Baron Karls Drais von Sauerbronn yang pantas dicatat
sebagai salah seorang penyempurna velocipede. Tahun 1818, von Sauerbronn
membuat alat transportasi roda dua untuk menunjang efisiensi kerjanya. Sebagai
kepala pengawas hutan Baden,
ia memang butuh sarana transportasi bermobilitas tinggi. Tapi, model yang dikembangkan
tampaknya masih mendua, antara sepeda dan kereta kuda. Sehingga masyarakat
menjuluki ciptaan sang Baron sebagai dandy horse.
Baru pada 1839, Kirkpatrick
MacMillan, pandai besi kelahiran Skotlandia, membuatkan pedal khusus untuk sepeda. Tentu bukan
mesin seperti yang dimiliki sepeda motor, tapi lebih mirip pendorong yang
diaktifkan engkol, lewat gerakan turun-naik kaki mengayuh pedal. MacMillan pun
sudah "berani" menghubungkan engkol tadi dengan tongkat kemudi
(setang sederhana).
Sedangkan ensiklopedia
Britannica.com mencatat upaya penyempurnaan penemu Perancis, Ernest Michaux pada 1855, dengan membuat pemberat engkol, hingga laju sepeda lebih stabil.
Makin sempurna setelah orang Perancis lainnya, (1865) memperkuat roda dengan menambahkan lingkaran besi di sekelilingnya
(sekarang dikenal sebagai pelek atau velg). Lallement juga yang memperkenalkan
sepeda dengan roda depan lebih besar daripada roda belakang.
Namun kemajuan paling
signifikan terjadi saat teknologi pembuatan baja berlubang ditemukan, menyusul
kian bagusnya teknik penyambungan besi, serta penemuan karet sebagai bahan baku ban. Namun, faktor safety dan kenyamanan tetap belum
terpecahkan. Karena teknologi suspensi (per dan sebagainya) belum ditemukan,
goyangan dan guncangan sering membuat penunggangnya sakit pinggang. Setengah
bercanda, masyarakat menjuluki sepeda Lallement sebagai boneshaker (penggoyang tulang).
Sehingga tidak heran
jika di era 1880-an, sepeda tiga roda yang dianggap lebih aman buat wanita dan
laki-laki yang kakinya terlalu pendek untuk mengayuh sepeda konvensional
menjadi begitu populer. Trend sepeda roda dua kembali mendunia setelah
berdirinya pabrik sepeda pertama di Coventry, Inggris pada 1885. Pabrik yang didirikan James Starley ini makin menemukan momentum setelah tahun 1888 John Dunlop menemukan teknologi ban angin. Laju sepeda pun tak lagi berguncang.
Penemuan lainnya,
seperti rem, perbandingan gigi yang bisa diganti-ganti, rantai, setang yang
bisa digerakkan, dan masih banyak lagi makin menambah daya tarik sepeda. Sejak
itu, berjuta-juta orang mulai menjadikan sepeda sebagai alat transportasi,
dengan Amerika dan Eropa sebagai pionirnya.
Meski lambat laun,
perannya mulai disingkirkan mobil dansepeda motor, sepeda tetap punya pemerhati. Bahkan
penggemarnya dikenal sangat fanatik.
Thursday, January 21, 2016
KABUPATEN BANDUNG
SEJARAH SINGKAT KABUPATEN BANDUNG
(Prof. Dr. A. Sobana H. M.A)
Sebelum Kabupaten Bandung berdiri, daerah Bandung dikenal dengan sebutan
"Tatar Ukur". Menurut naskah Sadjarah Bandung, sebelum Kabupaten
Bandung berdiri, Tatar Ukur adalah termasuk daerah Kerajaan Timbanganten dengan
ibukota Tegalluar. Kerajaan itu berada dibawah dominasi Kerajaan
Sunda-Pajajaran. Sejak pertengahan abad ke-15, Kerajaan Timbanganten diperintah
secara turun temurun oleh Prabu Pandaan Ukur, Dipati Agung, dan Dipati Ukur.
Setelah Kerajaan Sunda-Pajajaran runtuh (1579/1580) akibat gerakan Pasukan
Banten dalam usaha menyebarkan agama Islam di daerah Jawa Barat, Tatar Ukur
menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Sumedanglarang, penerus Kerajaan Pajajaran.
Kerajaan Sumedanglarang didirikan dan diperintah pertama kali oleh Prabu Geusan
Ulun pada (1580-1608), dengan ibukota di Kutamaya, suatu tempat yang terletak
sebelah Barat kota Sumedang sekarang. Wilayah kekuasaan kerajaan itu meliputi
daerah yang kemudian disebut Priangan, kecuali daerah Galuh (sekarang bernama
Ciamis).
Pada masa pemerintahan Dipati Ukur, Tatar Ukur merupakan suatu wilayah yang
cukup luas, mencakup sebagian besar wilayah Jawa Barat, terdiri atas sembilan
daerah yang disebut "Ukur Sasanga".
Ketika Kerajaan Sumedang Larang diperintah
oleh Raden Suriadiwangsa, anak tiri Geusan Ulun dari Ratu Harisbaya,
Sumedanglarang menjadi daerah kekuasaan Mataram sejak tahun 1620. Sejak itu
status Sumedanglarang pun berubah dari kerajaan menjadi Kabupaten dengan nama
Kabupaten Sumedang. Mataram menjadikan Priangan sebagai daerah pertahanannya di
bagian Barat terhadap kemungkinan serangan Pasukan Banten dan atau Kompeni yang
berkedudukan di Batavia, karena Mataram di bawah pemerintahan Sultan Agung
(1613-1645) bermusuhan dengan Kompeni dan
Konflik dengan Kesultanan Banten. Untuk
mengawasi wilayah Priangan, Sultan Agung mengangkat Raden Aria Suradiwangsa
menjadi Bupati Wedana (Bupati Kepala) di Priangan (1620-1624), dengan gelar
Pangeran Rangga Gempol Kusumadinata, terkenal dengan sebutan Rangga Gempol I.
Tahun 1624 Sultan agung memerintahkan Rangga Gempol I untuk menaklukkan daerah
Sampang (Madura). Karenanya, jabatan Bupati Wedana Priangan diwakilkan kepada
adik Rangga Gempol I pangeran Dipati Rangga Gede. Tidak lama setelah Pangeran
Dipati Rangga Gede menjabat sebagai Bupati Wedana, Sumedang diserang oleh
Pasukan Banten. Karena sebagian Pasukan Sumedang berangkat ke Sampang, Pangeran
Dipati Rangga Gede tidak dapat mengatasi serangan tersebut.
Akibatnya, ia menerima sanksi politis dari Sultan
Agung. Pangeran Dipati Rangga Gede ditahan di Mataram. Jabatan Bupati Wedana
Priangan diserahkan kepada Dipati Ukur, dengan syarat ia harus dapat merebut
Batavia dari kekuasaan Kompeni. Tahun 1628 Sultan Agung memerintahkan Dipati
Ukur untuk membantu pasukan Mataram menyerang Kompeni di Batavia. Akan tetapi
serangan itu mengalami kegagalan. Dipati Ukur menyadari bahwa sebagai
konsekwensi dari kegagalan itu ia akan mendapat hukuman seperti yang diterima
oleh Pangeran Dipati Rangga Gede, atau hukuman yang lebih berat lagi. Oleh
karena itu Dipati Ukur beserta para pengikutnya membangkang terhadap Mataram.
Setelah penyerangan terhadap Kompeni gagal, mereka tidak datang ke Mataram
melaporkan kegagalan tugasnya. Tindakan Dipati Ukur itu dianggap oleh pihak
Mataram sebagai pemberontakan terhadap penguasa Kerajaan Mataram.
|
Terjadinya pembangkangan Dipati Ukur
beserta para pengikutnya dimungkinkan, antara lain karena pihak Mataram sulit
untuk mengawasi daerah Priangan secara langsung, akibat jauhnya jarak antara
Pusat Kerajaan Mataram dengan daerah Priangan. Secara teoritis, bila daerah
tersebut sangat jauh dari pusat kekuasaan, maka kekuasaan pusat di daerah itu
sangat lemah. Walaupun demikian, berkat bantuan beberapa Kepala daerah di
Priangan, pihak Mataram akhirnya dapat memadamkan pemberontakan Dipati Ukur.
Menurut Sejarah Sumedang (babad), Dipati Ukur tertangkap di Gunung Lumbung
(daerah Bandung) pada tahun1632. Setelah "pemberontakan" Dipati Ukur
dianggap berakhir, Sultan Agung menyerahkan kembali jabatan Bupati Wedana
Priangan kepada Pangeran Dipati Rangga Gede yang telah bebas dari hukumannya.
Selain itu juga dilakukan reorganisasi pemerintahan di Priangan untuk
menstabilkan situasi dan kondisi daerah tersebut. Daerah Priangan di luar
Sumedang dan Galuh dibagi menjadi tiga Kabupaten, yaitu Kabupaten Bandung,
Kabupaten Parakanmuncang dan Kabupaten Sukapura dengan cara mengangkat tiga
kepala daerah dari Priangan yang dianggap telah berjasa menumpas pemberontakan
Dipati Ukur.
Ketiga orang kepala daerah dimaksud adalah
Ki Astamanggala, umbul Cihaurbeuti diangkat menjadi mantri agung (bupati)
Bandung dengan gelar Tumenggung Wiraangunangun, Tanubaya sebagai bupati
Parakanmuncang dan Ngabehi Wirawangsa menjadi bupati Sukapura dengan gelar
Tumenggung Wiradadaha. Ketiga orang itu dilantik secara bersamaan berdasarkan
"Piagem Sultan Agung", yang dikeluarkan pada hari Sabtu tanggal 9
Muharam Tahun Alip (penanggalan Jawa). Dengan demikian, tanggal 9 Muharam Taun
Alip bukan hanya merupakan hari jadi Kabupaten Bandung tetapi sekaligus sebagai
hari jadi Kabupaten Sukapura dan Kabupaten Parakanmuncang.
Berdirinya Kabupaten Bandung, berarti di
daerah Bandung terjadi perubahan terutama dalam bidang pemerintahan. Daerah
yang semula merupakan bagian (bawahan) dari pemerintah kerajaan (Kerajaan
Sunda-Pajararan kemudian Sumedanglarang) dengan status yang tidak jelas,
berubah menjadi daerah dengan status administrative yang jelas, yaitu
Kabupaten. Setelah ketiga bupati tersebut dilantik di pusat pemerintahan
Mataram, mereka kembali ke daerah masing-masing. Sajarah Bandung (naskah)
menyebutkan bahwa Bupati Bandung Tumeggung Wiraangunangun beserta pengikutnya
dari Mataram kembali ke Tatar Ukur. Pertama kali mereka datang ke Timbanganten.
Di sana bupati Bandung mendapatkan 200 cacah. Selanjutnya Tumenggung
Wiraangunangun bersama rakyatnya membangun Krapyak, sebuah tempat yang terletak
di tepi Sungat Citarum dekat muara Sungai Cikapundung, (daerah pinggiran
Kabupaten Bandung bagian Selatan) sebagai ibukota Kabupaten. Sebagai daerah
pusat Kabupaten Bandung, Krapyak dan daerah sekitarnya disebut Bumi Tatar Ukur
Gede.
Wilayah administrative Kabupaten Bandung
di bawah pengaruh Mataram (hingga akhir abad ke-17), belum diketahui secara
pasti, karena sumber akurat yang memuat data tentang hal itu tidak/belum
ditemukan. Menurut sumber pribumi, data tahap awal Kabupaten Bandung meliputi
beberapa daerah antara lain Tatar Ukur, termasuk daerah Timbanganten,
Kahuripan, Sagaraherang, dan sebagian Tanah medang.
Boleh jadi, daerah Priangan di luar
Wilayah Kabupaten Sumedang, Parakanmuncang, Sukapura dan Galuh, yang semula
merupakan wilayah Tatar Ukur (Ukur Sasanga) pada masa pemerintahan Dipati Ukur,
merupakan wilayah administrative Kabupaten Bandung waktu itu. Bila dugaan ini
benar, maka Kabupaten Bandung dengan ibukota Karapyak, wilayahnya mencakup
daerah Timbanganten, Gandasoli, Adiarsa, Cabangbungin, Banjaran, Cipeujeuh,
Majalaya, Cisondari, Rongga, Kopo, Ujungberung dan lain-lain, termasuk daerah
Kuripan, Sagaraherang dan Tanahmedang.
Kabupaten Bandung sebagai salah satu
Kabupaten yang dibentuk Pemerintah Kerajaan Mataram, dan berada di bawah
pengaruh penguasa kerajaan tersebut, maka sistem pemerintahan Kabupaten Bandung
memiliki sistem pemerintahan Mataram. Bupati memiliki berbagai jenis symbol
kebesaran, pengawal khusus dan prajurit bersenjata. Simbol dan atribut itu
menambah besar dan kuatnya kekuasaan serta pengaruh Bupati atas rakyatnya.
Besarnya kekuasaan dan pengaruh bupati, antara lain ditunjukkan oleh pemilikan
hak-hak istimewa yang biasa dmiliki oleh raja. Hak-hak dimaksud adalah hak
mewariskan jabatan, hak memungut pajak dalam bentuk uang dan barang, hak
memperoleh tenaga kerja (ngawula), hak berburu dan menangkap ikan dan hak
mengadili.
Dengan sangat terbatasnya pengawasan
langsung dari penguasa Mataram, maka tidaklah heran apabila waktu itu Bupati
Bandung khususnya dan Bupati Priangan umumnya berkuasa seperti raja. Ia
berkuasa penuh atas rakyat dan daerahnya. Sistem pemerintahan dan gaya hidup
bupati merupakan miniatur dari kehidupan keraton. Dalam menjalankan tugasnya,
bupati dibantu oleh pejabat-pejabat bawahannya, seperti patih, jaksa, penghulu,
demang atau kepala cutak (kepala distrik), camat (pembantu kepala distrik),
patinggi (lurah atau kepala desa) dan lain-lain.
Kabupaten Bandung berada dibawah pengaruh
Mataram sampai akhir tahun 1677. Kemudian Kabupaten Bandung jatuh ketangan
Kompeni. Hal itu terjadi akibat perjanjian Mataram - Kompeni (perjanjian
pertama) tanggal 19-20 Oktober 1677. Di bawah kekuasaan Kompeni (1677-1799),
Bupati Bandung dan Bupati lainnya di Priangan tetap berkedudukan sebagai
penguasa tertinggi di Kabupaten, tanpa ikatan birokrasi dengan Kompeni.Sistem
pemerintahan Kabupaten pada dasarnya tidak mengalami perubahan, karena Kompeni
hanya menuntut agar bupati mengakui kekuasaan Kompeni, dengan jaminan menjual
hasil-hasil bumi tertentu kepada VOC. Dalam hal ini bupati tidak boleh
mengadakan hubungan politik dan dagang dengan pihak lain. Satu hal yang berubah
adalah jabatan bupati wedana dihilangkan. Sebagai gantinya, Kompeni mengangkat
Pangeran Aria Cirebon sebagai pengawas (opzigter) daerah Cirebon - Priangan
(Cheribonsche Preangerlandan).
Salah satu kewajiban utama Bupati terhadap
kompeni adalah melaksanakan penanaman wajib tanaman tertentu, terutama kopi,
dan menyerahkan hasilnya. Sistem penanaman wajib itu disebut Preangerstelsel.
Sementara itu bupati wajib memelihara keamanan dan ketertiban daerah
kekuasaannya. Bupati juga tidak boleh mengangkat atau memecat pegawai bawahan
bupati tanpa pertimbangan Bupati Kompeni atau penguasa Kompeni di Cirebon. Agar
bupati dapat melaksanakan kewajiban yang disebut terakhir dengan baik, pengaruh
bupati dalam bidang keagamaan, termasuk penghasilan dari bidang itu, seperti bagian
zakat fitrah, tidak diganggu baik bupati maupun rakyat (petani) mendapat
bayaran atas penyerahan kopi yang besarnya ditentukan oleh Kompeni.
Hingga berakhirnya kekuasaan Kompeni - VOC
akhir tahun 1779, Kabupaten Bandung beribukota di Krapyak. Selama itu Kabupaten
Bandung diperintah secara turun temurun oleh enam orang bupati. Tumenggung
Wiraangunangun (merupakan bupati pertama) angkatan Mataram yang memerintah
sampai tahun 1681. Lima bupati lainnya adalah bupati angkatan Kompeni yakni
Tumenggung Ardikusumah yang memerintah tahun 1681-1704, Tumenggung Anggadireja
I (1704-1747), Tumenggung Anggadireja II (1747-1763), R. Anggadireja III dengan
gelar R.A. Wiranatakusumah I (1763-1794) dan R.A. Wiranatakusumah II yang
memerintah dari tahun 1794 hingga tahun 1829. Pada masa pemerintahan Bupati
R.A. Wiranatakusumah II, ibukota Kabupaten Bandung dipindahkan dari Karapyak ke
Kota Bandung.
Sumber:
PENELUSURAN SEJARAH Pemerintah Kabupaten Bandung Tahun 1846 - 2010 - See more at: http://www.bandungkab.go.id/arsip/16/sejarah-berdirinya-kabupaten-bandung#sthash.vTz1sOgS.dpuf
PENELUSURAN SEJARAH Pemerintah Kabupaten Bandung Tahun 1846 - 2010 - See more at: http://www.bandungkab.go.id/arsip/16/sejarah-berdirinya-kabupaten-bandung#sthash.vTz1sOgS.dpuf
Subscribe to:
Posts (Atom)
